RSS

“Asal-usul Desa Wisata Krebet”



Dahulu pedusunan Krebet merupakan bentangan hutan yang berada di atas bukit Slarong, dan belum memungkinkan untuk dijadikan tempat pemukiman penduduk. Sedangkan tumbuhan yang kemungkinan hanya tumbuhan semak-semak perdu dan beberapa kayu yang pada waktu itu tidak berharga.

Lama-kelamaan dari masyarakat seberang timur dan barat mencoba membuka hutan tersebut untuk pertanian. Salah satu contoh dari keturunan warga Mangir pada waktu itu mangir bedhah, kebanyakan warga menjadi bubar  menyebar ke arah utara di sekitar Triwidadi dan Sedayu. Kemudian salah satu nenek moyang kita adalah nenek Kasem yang mencoba membuka hutan diperbukitan Slarong tersebut.
Untuk menyebut tempat yang didatangi setiap hari atau supaya mudah bila ada pertanyaan dari tetangga dimana beliau menggarap ladang, membuka lahan di dusun ini ada tumbuhan terbesar dan mudah dipandang maka menyebut hutan tersebut adalah pohon Krebet yang masih ada di perempatan dekat dengan Sanggar Punokawan dan di Sendang Tirto Waluyo.
Sampai sekarang masyarakat Triwidadi menyebut dusun Krebet masih dengan sebutan “Ngalas” dari kata alas yang berarti hutan. Kedatangan orang – orang tersebut untuk menggarap tanah untuk pertanian. Jadi pada waktu itu pertanian jadi andalan. Tanaman yang berada pada waktu itu kebanyakan berupa polowijo, polo kapendhem, polo gumantung, dan polo kasimpar. Buah andalan untuk sampingan pada waktu itu adalah jambu kluthuk. Dalam perkiraan sampai sekarang lebih 6 keturunan kehidupan pencaharian sudah banyak percobaan.
Dari pertanian kemudian sampai kerajinan hingga sekarang, kehidupan perubahan pencarian dalam kurun waktu yang kurang jelas. Hasil pertanian dijual kepasar terdekat pada waktu itu Pasar Negoro (Beringharjo). Pasar yang lebih dekat yaitu Pasar Bantul dan pasar “adang – adangan” di tepi jalan menuju jalan besar dengan transportasi jalan kaki.
Karena pertanian sifatnya musiman dan hanya mengandalkan pengairan tadah hujan sebagian warga sudah bisa membuat kerajinan yang berupa alat rumah tangga seperti gayung air dari tempurung kelapa (siwar), sendok sayur (irus), takaran beras (beruk), tempat minum jamu (cawik), dan sampai sekarang masih ada yang melestarikan.
Sewaktu bumi Krebet ini masih banyak ragam tanaman pernah masyarakat Krebet ini membuat tunun bagor. Tenun Bagor terbuat dari daun gebang yang namanya “agel”. Kerajinan ini sebatas sebagai kantong barang. Punahnya ini karena terdesak kantong bagor plastik.
Kembali awal asalmuasal hutan Krebet sebutan dengan menyebutkan salah satu pohon sebagai bahasa sekarang maskot, maka dusun tersebut dinamakan Dukuh Krebet sebab pada waktu itu banyak warga dari daerah sekitar kota Bantul yang kemungkinan dulu Bantul masih Kademangan banyak yang dedukuh di Bukit Slarong.
Contoh – contoh dusun sekitar Krebet juga menggunakan nama tumbuhan. Sebagai contoh Pringgading (Bambu Kuning), Dadapbong, Serut,  Kalinongko, Kalibogor, Petung (Bambu Petung), Cikat Papat. Ini semua pasti untuk mengambil nama dengan maskot tumbuhan yang paling gampang dimengerti pada waktu itu.
Kehidupan mereka mayoritas bertani. Dalam dedukuh mereka, meraka banyak menjodohkan keturunannya sampai beranak – pianak yang sampai kini keturunan dari warga Krebetpun sudah berpencar sampai kepulau luar jawa, contoh Sumatra. Setelah adanya pemerintahan yang menginventaris dusun ngadusun maka dusun tercinta kita ini dinamakan Dukuh Krebet. Orang tua dulu mengatakan jaman perubahan status tanah, kalau dulu namanya kata orang tua Klangsir dan tanah harus dipajak.
Kita lanjutkan kehidupan masyarakat Krebet yang bertani, pengrajin, yang bertani karena kepemilikan tanah luas yang pengrajin karena tanah pertanian sedikit namun karena struktur tanah makin kehilangan kesuburan maka sebagian beliau beralih ke pengrajin.
Sedangkan jambu kluthuk yang dahulu menjadi buah andalan diperbukitan Slarong hilang lebur karena sementara dulu Jambu Kluthuk harga bersaing dengan jambu kluthuk jenis bangkok.
Pemuda –pemuda Krebet pada tahun 80-an meniru jejak Bapak Gunjiar mencoba untuk beralih ke kerajinan. Tahapan kerajinan dari seni topeng hingga kini menjadi bermacam-macam jenis menurut pemesan atau pesanan konsumen, hingga sekarang menjadi andalan kayu batik.
Tetap melekat sampai sekarang acara-acara ritual budaya peninggalan nenek moyang yang sebagian juga warisan budaya itu adalah warisan dari para raja sebagai sumbernya, tapi juga memang dari tradisi nenek moyang yang sekarang masih dilestarikan. Contoh bersih dusun, suran, Ruwahan, Selikuran. Sampai saat ini istilah “buangan” yang dikemas sebagai rebutan oleh anak-anak diperempatan dan bekas Planggrok selatan rumah kepala Dukuh dan Jurang Pulosari di Jurug. Kata orang apabila hewan piaraan si penunggu Kedhung disitu melepas merpati di waktu malam pertanda akan banyak orang yang makin sakit. Tapi itu Wallahu’allam, boleh percaya boleh tidak.
Untuk sekarang yang namanya kebun jambu kluthuk tinggal cerita kepada anak-anak sekarang sebab tumbuhan jambu sudah berganti tumbuhan asam, jati, akasia, sebagian mahoni yang hasilnya menanti sampai kayunya besar-besar.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar