Konon makanan-makanan kecil yang biasa kita makan seperti kacang
sukro, keripik pilus dan cemilan-cemilan lain sebenarnya dapat bicara
dalam bahasa mereka yang tidak dapat manusia dengar secara kasat. Di
dalam bungkus yang pengap dan tidak ada udara dan cahaya masuk mereka
menanti dengan penuh dengan kesabaran. Mereka menunggu seorang anak
manusia yang ditakdirkan untuk meretas bungkus yang menyelimuti mereka
selama berhari-hari dan berminggu-minggu.
Karena telah berhari dan berminggu mereka bersama, maka muncul rasa cinta, kasih sayang dan persamaan cita-cita di antara mereka.
Kemudian mereka berikrar satu sama lain untuk setia dan selalu bersama walau apapun yang terjadi. Mereka juga berjanji bersama.
“Kami berjanji demi Tuhan yang telah mempertemukan kami”, ikrar salah satu butiran kacang yang diikuti oleh kacang-kacang yang lain dengan lantang seperti pembacaan pancasila setiap upacara hari senin.
“Barangsiapa, manusia yang membebaskan kami, maka kami berjanji untuk tetap bersama-sama berkumpul di dalam sistem pencernaan manusia itu”, begitulah ikrar mereka bersama-sama. Seketika suasana menjadi haru. Setiap kacang saling berpelukan satu sama lain dan mengucapkan kata-kata penuh kasih sayang.
“Kalian adalah segalanya bagiku kawan, kita akan bersama selamanya”, kata salah satu butiran kacang.
“I love you all guys, we’ll be together forever”, ternyata ada butiran kacang impor dari Australia, yang tersesat.
Ada pula yang mengekspresikan cinta dan kasih sayangnya dengan menyanyi. “Aku tanpamuuuu… butiran kacang”, kurang lebih begitu bunyi potongan liriknya.
Sejak saat itu kacang-kacang itu sudah menjadi seperti saudara walaupun asal mereka pun berbeda-beda. Konon apabila ada manusia yang memakan satu butir kacang dari kelompok mereka, butiran-butiran kacang yang lain akan merasa iri dan terus memanggil-manggil manusia tadi untuk memakan butiran yang lain agar mereka tetap selalu bersama. Itulah penyebab ketika manusia mulai untuk ngemil akan sulit untuk berhenti sampai cemilan itu habis.
Karena telah berhari dan berminggu mereka bersama, maka muncul rasa cinta, kasih sayang dan persamaan cita-cita di antara mereka.
Kemudian mereka berikrar satu sama lain untuk setia dan selalu bersama walau apapun yang terjadi. Mereka juga berjanji bersama.
“Kami berjanji demi Tuhan yang telah mempertemukan kami”, ikrar salah satu butiran kacang yang diikuti oleh kacang-kacang yang lain dengan lantang seperti pembacaan pancasila setiap upacara hari senin.
“Barangsiapa, manusia yang membebaskan kami, maka kami berjanji untuk tetap bersama-sama berkumpul di dalam sistem pencernaan manusia itu”, begitulah ikrar mereka bersama-sama. Seketika suasana menjadi haru. Setiap kacang saling berpelukan satu sama lain dan mengucapkan kata-kata penuh kasih sayang.
“Kalian adalah segalanya bagiku kawan, kita akan bersama selamanya”, kata salah satu butiran kacang.
“I love you all guys, we’ll be together forever”, ternyata ada butiran kacang impor dari Australia, yang tersesat.
Ada pula yang mengekspresikan cinta dan kasih sayangnya dengan menyanyi. “Aku tanpamuuuu… butiran kacang”, kurang lebih begitu bunyi potongan liriknya.
Sejak saat itu kacang-kacang itu sudah menjadi seperti saudara walaupun asal mereka pun berbeda-beda. Konon apabila ada manusia yang memakan satu butir kacang dari kelompok mereka, butiran-butiran kacang yang lain akan merasa iri dan terus memanggil-manggil manusia tadi untuk memakan butiran yang lain agar mereka tetap selalu bersama. Itulah penyebab ketika manusia mulai untuk ngemil akan sulit untuk berhenti sampai cemilan itu habis.







0 komentar:
Posting Komentar