Ada
sebuah keluarga bahagia yang terdiri dari Ayah yang bernama Ahmad, Ibu bernama
Rafiah, dan seorang anak yang bernama Ali. Ahmad bekerja di salah satu kantor
di Jakarta, sudah 5 tahun dia bekerja disana,pada tahun ke-5 dia mendapatkan
tambahan gaji yang cukup besar yaitu Rp30,-. Keluarga kecil tersebut memiliki
cita-cita untuk membeli rumah dari uang tabungan mereka, karena itu Rafiah amat
berhati-hati untuk membelanjakan gaji suaminya.
Pada
suatu hari mereka pun pindah rumah ke Gang Ajudan walapun hanya menyewa, namun
rumah itu jauh lebih bersar dan bagus dari rumah mereka yang dahulu. Karena
Ahmad merasa malu dengan teman-temannya jika mereka datang kerumah nya yang
dahulu. Keluarga itu sering pergi melancong ke rumah teman Ahmad, setiap
bertandang dirumah orang, mereka selalu disuguhi dengan perabotan-perabotan
rumah yang mewah, dan perhiasan yang mahal. Karena Ahmad ingin memiliki seperti
yang dimiliki teman-temannya, pertama dia ingin membeli perabotan rumah yang
mewah namun dengan cara berhutang, sebenarnya Rafiah tidak setuju, namun
akhirnya Rafiah menuruti kemauan Ahmad. Yang kedua Ahmad ingin membelikan
perhiasan yang bagus dan mahal untuk istrinya sama seperti yang dimiliki istri
temannya, namun lagi-lagi dengan cara berhutang, sehingga hutang mereka
bertambah banyak. Suatu hari Ahmad ditawari motor oleh teman sahabatnya, Ahmad
memang ingin sekali memiliki motor, namun sebelumnya dia berpikir-pikirdengan
istrinya dulu, namun karena penjualnya sangat pintar dalam menawarkan motor,
suami istri tersebut pun membeli motor dengan cara kredit.
Selama
setahun Ahmad dan keluarganya selalu hidup dalam kegembiraan, setiap bulan dia
mengajak anak istrinya pergi keluar kota dengan motornya, kadang-kadang sampai
Bogor dan ke Cianjur, ke tanah pegunungan yang indah, seperti yang
dicita-citakan hatinya dahulu. Rafiah lupa bagaimana perasaan hatinya dahulu
waktu mengeluarkan uang simpanan nya untuk membeli motor itu, yang teringat hanyalah
kesenangan saja. Sejak mempunyai motor Rafiah tak dapat lagi menyimpan uang,
tetapi uang belanja kadang terpaksa diambil untuk membeli bensin dan untuk
membetulkannya jika ada kerusakan, karena itu makin lama makin terasa kekurangan
sisa gajinya. Rafiah pun ingin mengembalikan motor itu kepada mindringnya lagi,
namun Ahmad tidak setuju karena kurang beberapa bulan lagi motor itu sudah
lunas. Ia lebih memilih berhutang kepada orang lain.
Beberapa
hari kemudian ada 2 orang yang datang menemui Ahmad untuk menagih hutang dari
perkakas rumah dan motor, namu Ahmad tidak bisa membayarnya pada hari itu, dia
berjanji akan membayarnya hari esok, akhirnya dia pun jadi untuk berhutang
kepada orang lain, yang bunganya tidak sedikit.
Setiap
hari ada saja masalah yang didapatkan Rafiah, mulai dari uang sekolah Ali yang
belum lunas, dan rekening-rekening hutang perabotan rumah, perhiasan, dan
motor. Sehingga Ahmad dan Rafiah terpaksa berhutang kepada beberapa orang untuk
menutupi hutang-hutangnya. Pada bulan-bulan berikutnya Ahmad dipecat dari
perusahaannya, karena perusahaannya sudah akan bangkrut. Akhirnya Rafiah pun
memberi solusi agar keluarganya pindah rumah yang biaya sewanya lebih kecil,
dan mengembalikan barang-barang yang sudah mereka hutangi, lalu Ahmad pun menuruti
solusi Rafiah, dia tidak mau menuruti nafsunya lagi. Namun pada suatu hari
anaknya, Ali jatuh sakit, dia pun hanya dapat terbaring lemas di tempat
tidurnya. Akhirnya Rafiah meminta uang kepada orang yang telah dihutanginya
dahulu, namun orang itu menawar kehormatan rafiah dengan uang, Rafiah pun
sangat marah, namun akhirnya Rafiah mau mengorbankan kehormatannya demi
keselamatan anaknya. Namnun pada saat Rafiah pulang, Ali sudah terbujur kaku
ditutupi dengan kain panjang, Rafiah pun merasa menyesal, dia menangis dan
akhirnya pingsan saat mengetahui anaknya sudah meninggal. Dari hari ke hari
tingkah lakunya semakin berubah, kadang dia tertawa, kadang dia menangis,
ternyata ingatan nya sudah tidak sempurna lagi.






0 komentar:
Posting Komentar